Jakarta, 29 Agustus 2026 – Kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Kalimantan Barat (Kalbar) terus menjadi perhatian seiring meningkatnya aktivitas kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dinas Kesehatan Kalbar mencatat sebanyak 165.727 kasus ISPA sepanjang periode 1 Januari hingga 22 Agustus 2026. Angka tersebut berdasarkan laporan yang masuk melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR).
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Kalbar, dr Erna Yulianti, mengatakan tren peningkatan kasus mulai terlihat sejak sekitar akhir Mei atau minggu ke-21. Kenaikan tersebut kemudian terus dipantau hingga memasuki pertengahan Agustus, ketika aktivitas hotspot di sejumlah wilayah Kalbar turut meningkat.
Kasus Meningkat Saat Karhutla Menguat
Dinkes Kalbar melihat adanya peningkatan kunjungan masyarakat ke fasilitas pelayanan kesehatan dalam beberapa pekan terakhir. Kondisi tersebut menjadi perhatian karena berlangsung bersamaan dengan meningkatnya aktivitas kebakaran dan kemunculan titik panas di sejumlah daerah.
Meski demikian, Erna mengingatkan bahwa seluruh kasus ISPA tidak dapat secara otomatis dikaitkan dengan karhutla. ISPA memiliki beragam faktor risiko dan penyebab sehingga diperlukan pemantauan lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara perkembangan penyakit dan kondisi lingkungan.
Data ISPA Dipantau Bersama Hotspot
Untuk mengantisipasi dampak kesehatan, Dinkes Kalbar kini menyandingkan data perkembangan kasus ISPA dengan informasi mengenai titik panas. Cara tersebut dilakukan untuk mengidentifikasi wilayah yang memiliki risiko lebih tinggi akibat aktivitas karhutla.
Pemantauan dilakukan secara berkala berdasarkan laporan fasilitas pelayanan kesehatan, terutama puskesmas yang berada di sekitar wilayah dengan aktivitas hotspot tinggi. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah untuk memperkuat kewaspadaan dan pelayanan kesehatan masyarakat.
Asap Jadi Ancaman bagi Pernapasan
Kabut asap yang muncul akibat karhutla dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan paparan partikel hasil pembakaran. Kondisi tersebut berpotensi memperburuk gangguan pada saluran pernapasan, terutama bagi masyarakat yang memiliki kerentanan lebih tinggi.
Sebelumnya, Kementerian Kesehatan juga mencatat Kalbar sebagai provinsi dengan jumlah kasus ISPA tertinggi dalam pemantauan dampak kesehatan akibat karhutla. Pada periode 1 Januari hingga 7 Agustus 2026, Kemenkes mencatat 165.747 kasus ISPA di Kalbar.
Kelompok Rentan Perlu Lebih Waspada
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta masyarakat dengan kondisi kesehatan tertentu menjadi kelompok yang perlu mendapatkan perhatian lebih ketika kualitas udara memburuk.
Paparan asap dalam kondisi udara yang tidak sehat dapat membuat kelompok tersebut lebih mudah mengalami gangguan pernapasan. Karena itu, aktivitas di luar ruangan perlu disesuaikan dengan kondisi kualitas udara setempat.
Warga Diminta Kurangi Aktivitas di Luar
Dinkes mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan ketika kabut asap mulai pekat. Warga disarankan mengurangi kegiatan yang tidak diperlukan di ruang terbuka, terutama ketika kualitas udara sedang memburuk.
Masyarakat yang tetap harus beraktivitas di luar ruangan juga dianjurkan menggunakan masker yang memberikan perlindungan memadai terhadap partikel udara. Asupan cairan dan pola hidup bersih juga perlu tetap diperhatikan.
Karhutla Masih Menjadi Perhatian
Peningkatan kasus ISPA berlangsung ketika pemerintah dan berbagai unsur terkait masih berupaya menangani karhutla di Kalimantan. Sejumlah wilayah di Kalbar mengalami kondisi asap yang cukup mengganggu aktivitas masyarakat.
Presiden Prabowo Subianto sebelumnya juga telah meninjau langsung penanganan karhutla di Kalbar dan memimpin rapat terbatas terkait kondisi tersebut di Posko Satgas Udara Lanud Supadio pada 22 Agustus 2026.
Penanganan Harus Berjalan Bersamaan
Penanganan karhutla dan perlindungan kesehatan masyarakat perlu dilakukan secara bersamaan. Pemadaman kebakaran diperlukan untuk mengurangi sumber asap, sementara sistem pemantauan kesehatan harus diperkuat untuk mendeteksi peningkatan penyakit sedini mungkin.
Dengan pemantauan yang dilakukan secara rutin, pemerintah dapat mengetahui wilayah yang membutuhkan perhatian lebih dan menyesuaikan langkah pelayanan kesehatan berdasarkan kondisi di lapangan.
Dinas Kesehatan Kalimantan Barat mencatat 165.727 kasus ISPA sepanjang 1 Januari hingga 22 Agustus 2026. Peningkatan kasus terjadi bersamaan dengan meningkatnya aktivitas karhutla dan hotspot di sejumlah wilayah. Meski tidak seluruh kasus dapat langsung dikaitkan dengan karhutla, paparan asap tetap menjadi perhatian karena dapat memperburuk gangguan saluran pernapasan, terutama pada kelompok rentan.