Banjarbaru, 2 September 2026 – Upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan terus dilakukan dengan mengerahkan berbagai sumber daya, termasuk operasi pemadaman melalui udara. Dalam penanganan tersebut, sekitar 1,3 juta liter air telah ditumpahkan dari udara untuk membantu mengendalikan titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Penggunaan helikopter menjadi salah satu strategi penting karena sejumlah area yang terbakar berada di kawasan dengan akses terbatas. Operasi udara juga dilakukan untuk mempercepat penanganan ketika kobaran api meluas dan berpotensi menyebar ke wilayah lain. Upaya tersebut menjadi bagian dari langkah terpadu untuk mencegah kebakaran berkembang menjadi lebih besar dan menimbulkan dampak yang lebih luas bagi masyarakat.
Pemadaman melalui udara dilakukan dengan menjatuhkan air secara langsung ke lokasi yang mengalami kebakaran. Strategi tersebut dinilai efektif untuk membantu membasahi area yang terbakar sekaligus mengurangi intensitas api sebelum tim darat melakukan penanganan lebih lanjut. Dalam kondisi tertentu, medan yang berupa lahan gambut, semak belukar, atau kawasan dengan vegetasi rapat membuat petugas kesulitan mendekati sumber api secara langsung. Penggunaan pesawat atau helikopter dapat menjadi alternatif untuk menjangkau titik-titik tersebut dalam waktu yang relatif lebih cepat. Koordinasi antara tim udara dan petugas di lapangan menjadi faktor penting agar penjatuhan air dapat dilakukan pada lokasi yang tepat.
Besarnya volume air yang telah dikerahkan menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan operasi berulang dan tidak cukup hanya dilakukan dalam satu kali penerbangan. Air harus ditumpahkan secara berkala pada titik api yang masih aktif maupun kawasan yang berpotensi kembali terbakar. Kondisi cuaca, arah angin, serta karakteristik lahan turut memengaruhi efektivitas proses pemadaman. Api yang terlihat sudah mengecil masih dapat menyisakan bara di bawah permukaan, terutama apabila kebakaran terjadi pada lahan yang memiliki kandungan bahan organik tinggi. Karena itu, proses pendinginan dan pemantauan tetap diperlukan setelah pemadaman awal dilakukan.
Selain mengandalkan operasi udara, penanganan karhutla juga membutuhkan keterlibatan petugas pemadam dan unsur terkait di darat. Tim lapangan bertugas memastikan api benar-benar dapat dikendalikan sekaligus melakukan penyisiran terhadap area yang masih mengeluarkan asap. Langkah tersebut penting untuk mencegah munculnya kembali titik api setelah operasi water bombing dihentikan. Pemadaman dari udara pada dasarnya berfungsi sebagai pendukung operasi darat, terutama ketika petugas menghadapi medan yang sulit dijangkau. Kombinasi kedua metode tersebut diharapkan dapat mempercepat proses pengendalian kebakaran secara menyeluruh.
Karhutla tidak hanya menimbulkan kerugian terhadap lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat apabila asap menyebar ke kawasan permukiman. Kualitas udara dapat menurun ketika konsentrasi asap meningkat dalam waktu yang cukup lama. Kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas luar ruangan serta meningkatkan risiko gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok masyarakat yang rentan terhadap paparan asap. Karena itu, penanganan kebakaran tidak hanya berorientasi pada pemadaman api, tetapi juga pada upaya mengurangi penyebaran asap dan melindungi masyarakat di sekitar lokasi terdampak. Pemantauan kualitas udara dan kondisi wilayah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari penanganan bencana tersebut.
Upaya pemadaman juga perlu diikuti dengan langkah pencegahan agar kebakaran tidak kembali terjadi setelah titik api berhasil dikendalikan. Pengawasan terhadap kawasan rawan terbakar menjadi penting, terutama ketika kondisi cuaca cenderung kering dan vegetasi mudah terbakar. Masyarakat di sekitar kawasan hutan dan lahan juga memiliki peran dalam mencegah aktivitas yang dapat memicu munculnya api. Setiap indikasi asap atau titik panas perlu segera dilaporkan sehingga dapat ditangani sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas. Kecepatan dalam mendeteksi dan merespons titik api menjadi salah satu faktor utama dalam menekan dampak karhutla.
Besarnya pengerahan air dari udara sekaligus memperlihatkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan kesiapan peralatan, personel, serta koordinasi lintas sektor. Operasi pemadaman harus terus disesuaikan dengan perkembangan kondisi di lapangan karena lokasi dan intensitas kebakaran dapat berubah akibat faktor angin serta cuaca. Evaluasi terhadap titik-titik yang telah dipadamkan juga diperlukan untuk memastikan tidak ada bara yang kembali memicu kebakaran. Dengan dukungan operasi udara dan penanganan langsung di lapangan, pengendalian diharapkan dapat dilakukan secara lebih cepat dan efektif. Penanganan yang konsisten juga menjadi kunci agar kebakaran tidak meluas dan menimbulkan dampak lingkungan serta sosial yang semakin besar.
Pengerahan sekitar 1,3 juta liter air dari udara menjadi salah satu gambaran besarnya upaya yang diperlukan untuk menghadapi karhutla di Kalimantan Selatan. Operasi tersebut tidak hanya ditujukan untuk memadamkan api yang terlihat, tetapi juga membantu mengendalikan kawasan yang berpotensi mengalami perluasan kebakaran. Keberhasilan penanganan tetap bergantung pada kesinambungan pemadaman, pemantauan, serta pencegahan di wilayah yang telah ditangani. Pemerintah dan seluruh unsur yang terlibat perlu memastikan setiap titik api mendapat penanganan hingga benar-benar aman dari kemungkinan munculnya kembali kobaran. Di tengah kondisi cuaca yang dapat berubah sewaktu-waktu, kewaspadaan dan respons cepat menjadi bagian penting untuk menjaga wilayah Kalimantan Selatan dari dampak karhutla yang lebih luas.