Jakarta, 2 Juni 2026 – Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Erick Thohir menyoroti semakin besarnya pengaruh kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) terhadap dunia kerja dan perekonomian global. Menurutnya, perkembangan teknologi AI yang berlangsung sangat cepat berpotensi mengubah struktur ketenagakerjaan di berbagai sektor, bahkan dapat menyebabkan sejumlah jenis pekerjaan berkurang atau tergantikan oleh sistem otomatisasi. Pernyataan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya penggunaan teknologi berbasis AI dalam berbagai bidang, mulai dari industri manufaktur, keuangan, layanan pelanggan, hingga sektor kreatif. Erick menilai bahwa perubahan tersebut harus diantisipasi sejak dini agar tidak menimbulkan dampak sosial dan ekonomi yang lebih luas di masa depan. Karena itu, penguatan kualitas sumber daya manusia menjadi salah satu agenda penting yang perlu terus didorong untuk menghadapi era transformasi digital yang semakin kompleks.
Perkembangan AI dalam beberapa tahun terakhir memang menunjukkan laju yang sangat pesat. Berbagai teknologi yang sebelumnya hanya mampu melakukan tugas sederhana kini telah berkembang menjadi sistem yang mampu menganalisis data dalam jumlah besar, menghasilkan konten, membantu pengambilan keputusan, hingga menjalankan berbagai proses kerja secara otomatis. Di banyak perusahaan, penggunaan AI mulai diterapkan untuk meningkatkan efisiensi operasional dan mengurangi biaya produksi. Kondisi tersebut memberikan keuntungan dari sisi produktivitas, namun di saat yang sama juga menimbulkan kekhawatiran mengenai masa depan sejumlah profesi yang selama ini bergantung pada pekerjaan rutin dan berulang. Fenomena inilah yang menjadi perhatian banyak pemerintah dan pelaku industri di berbagai negara.
Menurut berbagai kajian internasional, pekerjaan yang memiliki karakter administratif, pengolahan data dasar, hingga layanan tertentu merupakan jenis pekerjaan yang paling rentan terdampak oleh otomatisasi. Namun, para ahli menegaskan bahwa AI tidak selalu berarti hilangnya seluruh pekerjaan. Dalam banyak kasus, teknologi justru mengubah cara kerja dan menciptakan kebutuhan terhadap keterampilan baru yang sebelumnya tidak ada. Oleh karena itu, tantangan utama bukan hanya bagaimana menghadapi pengurangan pekerjaan tertentu, tetapi juga bagaimana mempersiapkan tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Kemampuan untuk belajar dan mengembangkan keterampilan baru menjadi faktor yang semakin penting dalam menghadapi era digital.
Erick Thohir menekankan bahwa peningkatan kualitas sumber daya manusia harus menjadi prioritas agar Indonesia tidak tertinggal dalam persaingan global. Menurutnya, pendidikan dan pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan perlu terus diperkuat. Generasi muda perlu dibekali kemampuan yang tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga keterampilan yang sulit digantikan oleh mesin, seperti kreativitas, kemampuan berpikir kritis, kepemimpinan, komunikasi, dan pemecahan masalah. Dengan kombinasi keterampilan tersebut, tenaga kerja Indonesia diharapkan mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan tetap memiliki daya saing yang tinggi di pasar kerja.
Para pengamat ekonomi menilai bahwa dampak AI terhadap dunia kerja akan sangat bergantung pada kesiapan suatu negara dalam mengelola transisi tersebut. Negara yang mampu berinvestasi dalam pendidikan, inovasi, dan pengembangan keterampilan cenderung lebih siap menghadapi perubahan. Sebaliknya, negara yang tidak melakukan penyesuaian berisiko menghadapi peningkatan kesenjangan keterampilan dan ketidakcocokan antara kebutuhan industri dengan kemampuan tenaga kerja yang tersedia. Karena itu, kolaborasi antara pemerintah, dunia pendidikan, dan sektor swasta menjadi sangat penting dalam membangun ekosistem yang mendukung adaptasi terhadap perkembangan teknologi.
Di lingkungan BUMN sendiri, transformasi digital terus menjadi salah satu fokus utama dalam meningkatkan efisiensi dan daya saing perusahaan. Berbagai perusahaan negara mulai memanfaatkan teknologi digital, termasuk AI, untuk mendukung operasional dan pelayanan kepada masyarakat. Namun, penerapan teknologi tersebut juga diiringi dengan upaya peningkatan kompetensi karyawan agar dapat beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Pendekatan ini dianggap penting untuk memastikan bahwa transformasi digital tidak hanya berorientasi pada teknologi, tetapi juga memperhatikan kesiapan sumber daya manusia yang menjadi bagian dari proses tersebut.
Perkembangan AI diperkirakan akan terus mempercepat perubahan di berbagai sektor ekonomi dalam beberapa tahun ke depan. Oleh karena itu, peringatan yang disampaikan Erick Thohir menjadi pengingat bahwa tantangan terbesar bukanlah teknologi itu sendiri, melainkan kemampuan manusia untuk beradaptasi dengan perubahan yang ditimbulkannya. Dengan investasi yang tepat pada pendidikan, pelatihan, dan pengembangan keterampilan, Indonesia memiliki peluang untuk memanfaatkan AI sebagai pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus menciptakan lapangan kerja baru yang lebih relevan dengan kebutuhan masa depan. Keberhasilan menghadapi era kecerdasan buatan pada akhirnya akan sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia dalam menjawab perubahan yang terus berlangsung.