Jakarta, 23 Oktober 2026 – Ansari menekankan pentingnya membangun komunikasi terbuka antara orang tua dan anak sebagai salah satu fondasi utama dalam menciptakan hubungan keluarga yang harmonis. Komunikasi yang baik dinilai memiliki peran besar dalam membantu anak mengungkapkan perasaan, menyampaikan persoalan, serta memperoleh pendampingan ketika menghadapi berbagai tantangan kehidupan. Orang tua diharapkan tidak hanya memberikan nasihat atau menetapkan aturan, tetapi juga menyediakan ruang bagi anak untuk menyampaikan pendapat tanpa merasa takut dihakimi. Pendekatan tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan lingkungan sosial dan perkembangan teknologi yang memengaruhi kehidupan anak-anak. Melalui komunikasi yang terbuka, hubungan emosional dalam keluarga diharapkan semakin kuat sehingga anak memiliki rasa aman dan kepercayaan terhadap orang tuanya.
Menurut pandangan yang disampaikan Ansari, komunikasi dalam keluarga perlu dibangun melalui kebiasaan sehari-hari yang melibatkan seluruh anggota keluarga. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk menciptakan suasana percakapan yang nyaman sehingga anak tidak merasa tertekan ketika ingin menceritakan pengalaman pribadinya. Sikap mendengarkan secara aktif menjadi salah satu unsur penting karena anak membutuhkan perhatian dan pemahaman terhadap persoalan yang mereka hadapi. Ketika anak merasa pendapatnya dihargai, mereka cenderung lebih terbuka dalam menyampaikan kebutuhan maupun kesulitan yang dialami. Kebiasaan tersebut dapat membantu mengurangi kesalahpahaman sekaligus memperkuat kedekatan emosional antara orang tua dan anak.
Komunikasi terbuka juga berkaitan erat dengan perkembangan psikologis dan pembentukan karakter anak. Lingkungan keluarga yang memberikan kesempatan untuk berdiskusi dapat membantu anak belajar mengenali emosi, menyampaikan pendapat, serta memahami sudut pandang orang lain. Kemampuan tersebut menjadi bekal penting ketika anak berinteraksi dengan teman sebaya, guru, maupun masyarakat di lingkungan sekitarnya. Sebaliknya, pola komunikasi yang terlalu menekan atau hanya mengutamakan kepatuhan berpotensi membuat anak enggan menyampaikan persoalan yang sedang dihadapi. Karena itu, orang tua perlu menyeimbangkan penerapan aturan dengan pendekatan yang menghargai kebutuhan emosional dan tahap perkembangan anak.
Dalam kehidupan modern, tantangan komunikasi keluarga semakin kompleks seiring meningkatnya penggunaan perangkat digital dan media sosial. Anak-anak kini dapat memperoleh berbagai informasi melalui internet, termasuk konten yang belum tentu sesuai dengan usia dan tingkat pemahaman mereka. Kondisi tersebut menuntut orang tua untuk terlibat secara aktif dalam mendampingi aktivitas digital tanpa harus selalu menggunakan pendekatan yang bersifat membatasi. Percakapan mengenai keamanan internet, perlindungan data pribadi, dan penggunaan media sosial secara bertanggung jawab dapat menjadi bagian dari komunikasi keluarga. Dengan membangun hubungan yang terbuka, anak diharapkan lebih bersedia meminta bantuan ketika menemukan pengalaman tidak menyenangkan atau menghadapi risiko di ruang digital.
Selain persoalan teknologi, komunikasi yang baik diperlukan untuk membantu anak menghadapi tekanan dalam lingkungan pendidikan dan pergaulan. Tuntutan akademik, hubungan pertemanan, serta perubahan emosi pada masa pertumbuhan dapat menjadi sumber kekhawatiran yang tidak selalu terlihat oleh orang tua. Anak yang terbiasa berkomunikasi secara terbuka memiliki kesempatan lebih besar untuk memperoleh dukungan ketika menghadapi masalah tersebut. Orang tua dapat memulai percakapan melalui pertanyaan sederhana mengenai kegiatan sehari-hari, pengalaman di sekolah, atau hal-hal yang sedang menarik perhatian anak. Pendekatan yang dilakukan secara konsisten dapat membantu membangun kebiasaan berbagi cerita tanpa harus menunggu munculnya persoalan serius.
Ansari juga mengingatkan pentingnya peran orang tua dalam memberikan contoh perilaku komunikasi yang sehat di lingkungan keluarga. Anak belajar tidak hanya melalui nasihat yang disampaikan secara langsung, tetapi juga dengan mengamati bagaimana orang dewasa berbicara, menyelesaikan perbedaan pendapat, dan mengendalikan emosi. Ketika orang tua menunjukkan sikap menghargai pendapat pasangan maupun anggota keluarga lainnya, anak dapat memahami bahwa perbedaan pandangan tidak harus berakhir dengan pertengkaran. Sebaliknya, penggunaan kata-kata kasar atau ancaman berpotensi memengaruhi cara anak berkomunikasi dengan orang lain. Oleh sebab itu, keteladanan menjadi bagian penting dalam membentuk kebiasaan komunikasi yang positif sejak usia dini.
Membangun komunikasi terbuka bukan berarti orang tua harus menyetujui seluruh keinginan anak atau menghilangkan batasan dalam keluarga. Aturan tetap diperlukan untuk membantu anak memahami tanggung jawab, kedisiplinan, dan konsekuensi dari setiap tindakan. Namun, penyampaian aturan sebaiknya disertai penjelasan yang sesuai dengan usia anak agar mereka memahami alasan di balik keputusan orang tua. Ketika terjadi perbedaan pendapat, keluarga dapat menggunakan kesempatan tersebut untuk melatih kemampuan berdiskusi dan mencari penyelesaian bersama. Pendekatan demikian diharapkan dapat menumbuhkan rasa tanggung jawab tanpa mengurangi kedekatan emosional antara anak dan orang tua.
Pesan mengenai pentingnya komunikasi terbuka menjadi pengingat bahwa keluarga memiliki peran utama dalam mendukung tumbuh kembang anak secara menyeluruh. Hubungan yang dibangun atas dasar kepercayaan, perhatian, dan saling menghargai dapat membantu anak menghadapi berbagai tantangan dengan lebih percaya diri. Orang tua diharapkan meluangkan waktu untuk mendengarkan pengalaman anak meskipun memiliki kesibukan pekerjaan maupun tanggung jawab lainnya. Komunikasi yang dilakukan secara rutin juga dapat menjadi sarana mendeteksi perubahan perilaku atau kondisi emosional anak sejak dini. Dengan membiasakan dialog yang hangat dan terbuka, keluarga diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang aman, mendukung perkembangan karakter, serta memperkuat hubungan antara orang tua dan anak dalam jangka panjang.